Arsip Blog

Rabu, 24 Februari 2016

Shalat Qiyam Ramadhan (Tarawih)

Shalat Qiyam Ramadhan (Tarawih)
dinukilkan dari kitab Ibnu Rusyd "Bidayah Al Mijtahid Wa Nihayah" dan Ulama Modern Lainya.
A.    Pengertian Tarawih
Tarawih berasal dari kata Kata “tarawih”merupakan bentuk jamak (plural) dari tarwihah, artinya istirahat untuk menghilangkan kepenatan, berasal dari kata “ar-rahah”  (rehat) yang berarti hilangnya kesulitan dan keletihan. Shalat ini disebut “ Tarawih” karena dahulu para jama’ah duduk istirahat setiap selesai shalat 4 rakaat.[1]
B.     Hukum Shalat  Tarawih
الباب الخا مس - في قيام رمضان
واجمعوا على ان قيام شهررمضان  مرغب فيه اكثر من سائر الأشهر لقوله عليه الصلاة والسلام  "من قام رمضان ، إيمانا ، واحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه " وان التراويح التي جمع  عليها عمر بن الخطاب الناس مرغب فيها ، وان كانوا اختلفوا اي افضل؟ أهي ، اوالصلاة آخر الليل ؟  أعني التي كانت صلاة رسول الله صلى الله عليه الصلاة والسلام ، لكن الجمهور على ان الصلاة آخر الليل افضل لقوله عليه الصلاة والسلام " أفضل الصلاة  صلاتكم في بيوتكم إلاّالمكتوبة" ولقوله عمر فيها : والتي تنامون عنها أفضل.
BAB yang ke Lima Matan Kitab Bidayah Mujtahid Wanihaytul Muqtashid– Mendirikan Shalat Malam Ramadhan.
Para ulama sepakat menetapkan bahwa shalat sunat di malam hari pada bulan ramadhan lebih banyak daripada di luar pada bulan ramadhan, Sebagaimana hadits nabi SAW:
من قام رمضان ايماناواحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه. (اخرجه البخاري ومسلم)
Barangsiapa salat malam dan menjalani kewajiban pada bulan ramadhan karena dorongan iman dan mengharap ridha Allah, Maka Allah Akan mengampuni dosanya yang telah lalu. ( HR. Bukhari dan muslim). Dan bahwa Shalat tarawih dengan jamaah seperti yang telah dilakukan oleh Umar bi Khattab r.a juga dianjurkan. Walaupun ada masalah yang dipertentangkan, yaitu mana yang lebih utama shalat tarawih seperti itu atau shalat sunat di akhir malam.
1.      Menurut Jumhur ulama, shalat di akhir malam lebih utama dari pada shalat tarawih di malam hari setelah shalat isya, dengan dasar yang telah disebutkan tadi diatas:
افضل الصلاة صلاتكم في بيوتكم الا المكتوبة  (اخرحه البخارى و مسلم)
Salat Sunat yang paling utama adalah shalat yang kamu lakukan dirumah kecuali shalat wajib (maktubah) (HR. Bukhari dan Muslim).
2.      Pendapat Umar bin Khattab r.a tentang shalat malam:
والتي تنامون عنها  افضل
“Salat malam yang lebih utama adalah shalat yang kalian lakukan setelah tidur”
C.     Jumlah Rakaat Tarawih
و اختلفوا في المختار من عدد الركعات التي يقوم بها الناس في رمضان فختار مالك في احد قوليه ، وابو حنيفة ، والشافعي واحمد وداود القيام بعشرين ركعة سوى الوتر ثلاث
Dan terjadinya perbedaan pendapat dalam bilangan rakaat yang dikerjakan oleh setiap orang pada bulan ramadhan, Maka Imam Malik memilih salah satu dari dua pendapat, dan Abu Hanifah, Syafii, Ahmad dan Dawud, jumlah shalat tarawih itu dua puluh rakaat selain witir. Dan yang dituturkan oleh ibnu Qasim, lebih baik dikerjakan sebanyak tiga puluh enam rakaat ditambah tiga rakaat witir.

Amalam para sahabat dan Tabiin Sebagai berikut:
وسبب اختلافهم اختلاف النقل في ذلك وذلك ان مالكا روى عن يزيد ابن رومان قال: كان الناس يقومون في زمان عمر بن الخطاب بثلاث وعشرين ركعة وخرج ابن ابي شيبة عن داود بنقيس قال: ادركت الناس بالمدينة في زمان عمر بن عبد العزيز وابان بن عثمان  يصلون ستا وثلاثين ركعة ويوترون بثلاث وذكر ابن قاسم عن مالك انه الامر اقديم: يعني القيام بست وثلاثين ركعة
Dan sebab Mereka berbeda pendapat yaitu perbedaan dalam menukilkan dalil yaitu Malik meriwayatkan (amalam para sahabat) dari Yazid Bin Ruman, dia berkata:
كان الناس يقومون في زمان عمر بن الخطاب بثلاث وعشرين ركعة.
Para sahabat dan orang-orang di zaman umar bin khattab melakukan shalat malam sebanyak dua puluh tiga rakaat”. Dan Ibnu Abi Syaibah meriwayatkan amalan tabiin dari Dawud bin Qais, dia berkata:
ادركت الناس بالمدينة في زمان عمر بن عبد العزيز وابان بن عثمان يصلون ستا وثلاثين ركعة يوترون بثلاث.
Saya mendapati orang-orang (tabiin) di Madinah pada masa umar bin Abdul Aziz dan Abban Bin Usman mereka shalat tarawih sebanyak tiga puluh enam rakaat dan shalat witir tiga rakaat.
Dan Ibnu Qasim menyebutkan riwayat dari Malik seperti yang di sebutkan bahwa itu perintah yang qadim (lampau), yakni Shalat tiga puluh enam rakaat.[2]
Ulama kontemporer juga yaitu Prof wahbah Az Zuhaili memberikan argument tentang Shalat tarawih yang merupakan shalat sunah mu’akkadah yang jumlah bilangannya dua puluh rakaat.orang ysng pertama kali melakukan shalat adalah Rasulullah saw..Abu Huraira berkata,”Rasulullah saw.suka melakukan shalat qiyam pada bulan ramadhan tanpa menyuruh dengan tegas.beliau hanya bersabda,
عن ابي هريرة رضي الله عنه ان رسول الله صلي الله عليه وسلم قال: من قام رمضان ايماناواحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه. رواه البخاري
“siapa saja yang menjalankan sholat qiyam pada bulan ramdhan dengan landasan iman dan mengharapkan pahala,maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang telah lalu. Adapun dalil shalat tarawih dua puluh rakaat yang dikutib oleh Wahbah Zuhaili adalah;.[3]
 Hadits riwayat malik dari Yazid bin Ruman ,ia berkata,”orang-orang pada masa umar melakukan shalat qiyam ramadhan sebanyak dua puluh tiga rakaat.”rahasianya adalah bahwa shalat rawatib jumlahnya sepuluh rakaat, lantas dilipatkan pada malam ramadhan karena bulan tersebut termaksud waktu untuk giat beribadah. Jumlah ini sudah menjadi ijma sahabat. Dalam kitab Al-Syaafii Abu Bakar bin Abdul Aziz meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw melakukan shalat pada bulan ramadhan sebanyak 20 rakaat. Khalifah Umar sendiri ketika menyuruh Ubai bin Ka’ab untuk memimpin shalat qiyam juga menganjurkan agar shalat dua puluh rakaat.
Dan pendapat yang mengatakan bahwa shalat tarawih 8 rakaat dan dilanjutkan dengan witir 3 rakaat ialah: Dalil-dalil yang dikemukakan oleh golongan yang berpendapat raka’at shalat Tarawih adalah sebelas raka’at, antara lain :
1.Hadits dari Aisyah :
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا .
Artinya : Nabi tidak pernah lebih dari 11 raka’at baik di Ramadhan maupun bulan-bulan lainnya. Beliau shalat 4 rakaat, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi 4 raka’at, jangan ditanya tentang bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat 3 raka’at.(H.R. Bukhari dan Muslim)
Perkataan “wala fii ghairihi” menunjukkan bahwa shalat yang dimaksud pada hadits ini bukanlah shalat Tarawih, karena shalat Tarawih tidak terdapat diluar Ramadhan. Jadi, menjadikan hadits ini sebagai dalil bilangan raka’at shalat Tarawih sungguh merupakan suatu yang tidak tepat sama sekali. Oleh karena itu, Ibnu Hajar al-Haitamy tidak menempatkan hadits di atas sebagai dalil raka’at shalat Tarawih, tetapi beliau menjadikan sebagai dalil jumlah raka’at shalat Witir.[4] Apalagi menetapkan jumlah raka’at Tarawih sebelas raka’at berdasarkan hadits di atas bertentangan dengan ijmak sahabat yang terjadi pada masa Umar bin Khatab.
Imam al-Ramli juga tidak menempatkan hadits di atas sebagai penentuan raka’at Tarawih, tetapi beliau juga menempatkannya sebagai dalil raka’at Witir.[5]
Shalat tarawih sunnahnya dilakukan dengan shalat berjamah dan dengan bacaan jahar atau keras.Abu Dzar berkata,”Rasullullah saw pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabat lantas beliau bersabda,
siapa saja yang ikut shalat qiyam bersama imam hingga selesai maka ia dicatat dalam kelompok orang yang mendapat pahala qiyam lail”.
Bacaan Dalam Shalat Tarawih
Imam ahmad berkata, “Dalam shalat tarawih, sebaiknya sebagai imam menbaca ayat-ayat pendek atau ringan agar tidak memperberatkannya terlebih jika waktu hitungan malamnya pendek. Berat ringannya tergantung kesiapan atau kebiasaan para makmum (orang-orang) dan Qadhi Abu Ya’la Berkata: disunatkan (mustahabu) mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat Qiyam Ramadhan, karena tujuannya untuk mendengarkan kepada orang-orang seluruh isi Al-Qur’an, dan tidak juga menambah khatamnya melebihi satu kali jika terjadi persoalan atas siapa saja yang berbeda.
 Sunnahnya shalat terawih itu dimulai dengan bacaan surah al-Alaq karna surat itulah yang pertama kali turun. Kemudian setelah sujud tilawah pada akhir surat, maka bangkit lagi dan membaca surat Al-Baqarah.
Dan Sayyid sabiq dalam Kitabnya menyatakan:
Tidak ada bacaan dalam tertentu yang disunnahkan dalam qiyam Ramadhan. Diceritakan bahwa para ulama salaf membaca 200 ayat dan karena panjangnya bacaan, mereka bersandar ke tongkat. Mereka baru menyelesaikan sholat setelah malam sudah mendekati subuh. Mereka segera meminta pembantu mereka menyiapkan makan sahur agar tidak terburu subuh. Mereka membaca surah Al-BAQARAH dalam 8 rakaat. Jika sekali waktu dibaca dalam 12 rakaat, yang demkian itu terhitung sebagai upaya meringankan.
Ibnu Qudamah menyebutkan, “ Ahmad berkata, ‘ saat menjadi imam qiyam Ramadhan , sebaiknya memilih bacaan yang ringan dan tidak memberatkan para makmum, terutama di malam – malam yang pendek.
Al-Qadhi berkata, “ tidak dianjurkan kurang dari sekali khatam Al-Qur’an dalam sebulan Ramadhan agar kaum muslimin mendengarkan  seluruh Al-Qur’an  juga tidak dianjurkanmelebihi sekali khatam Al-Qur’an agar tidak memberatkan makmun. Sebaiknya , Kondisi para makmun harus diperhatikan. Jika jamaah setuju dengan bacaan panjang, itu lebih baik, sebagaimana dikatakan oleh Abu Dzar. ‘ kami pernah qiyam Ramadhan bersama Rasulullah hingga kami khawatir ketinggalan makan sahur. Imam shalat membaca 200 ayat.”[6]


            Niat Shalat Terawih.
            niat shalat terawih dilakukan tiap dua rakaat, namun sunnahnya dibaca denagn suara rendah,
                        “saya niat shalat sunnat tarawih dua rakaat”
            Niat dalam ibadah sangat pentig karena rasulullah saw bersabda “amal ibadah tergantung niatnya” setelah empat rakaat shalat terawih terhenti sejenak untuk istirahat.
            Boleh juga tidak melakukan istirahat meskipun sudah empat rakaat, dan tidak berdoa ketika sedang beristirahat karena tidak ada perintah. Namun setelah selesai shalat tarawih, tidak makhruh untuk melantunkan doa.
            Waktu Shalat Tarawih
            Waktu shalat tarawih mulai dari setelah shalat ba’diyah insya sampai terbit pajar kedua. Shalat tarawih tidak sah jika dilakukan sebelum shalat isya. Jika ada orang setelah shalat isya lantas, melakukan shalat tarawih, namun kemudian ia ingat bahwa ketika melakukan shalat isya ia dalam keadaan tidak punya wudhuk, maka ia harus mengulang shalat isya dan shalat tarawih.
            Jika samapai waktu shalat tarawih habis dan belum sempat shalat maka tidak di khada shalat tarawih boleh dilakukan setelah shalat isya lansung sebelum shalat shalat ba’diyahnya. Akan tetapu afdhalnya shalat tarawih dilakukan setelah shalat ba’diyah isya.
            Shalat Witir Setelah Shalat Tarawih
            Setelah shalat tarawih, disunnahkan untuk melakukan tiga rakaat shalat witir dengan berjamaah. Jika malamnya melakukan shalat tahajud, maka shlat witir dilakukan stelahnya karena rasulullah saw bersabda, “dirikanlah shalat witir sebagai penutup shalat kalian.” Akan tetapi jika malamnya tidak melakukan shalat tahajud, maka sebaiknya shalat witir bersama imam agar mendapat pahala jamaah.
            Siapa saja yang menjalankan shalat witir, baik berjamah maupun sendirian, kemudian ingin melakukan shalat sunnah lain maka shala witirnya tidak batal. Artinya, tidak perlu menggenapkannya lagi dengan satu rakaat. Pendapat ini menurut mazhab syafi’iyah dengan dalil perkataan syaidah aisyah ketika ditanya tentang orang yang membatalkan witirnya. “orang itu mempermainkan shalat witirnya.” Setelah sahalat witir, seorang boleh melakukan shalat tahajud hingga menjelang subuh. Karna rasulullah saw. Sendiri pernah melakukan shalat dua rakaat setelah witir. Akan tetapi setelah itutidak melakukan witir kagi, karena witirnya sudah dilakukan sebelum tahajud, rasulullah juga bersabda yang artinya”
                        “tidak ada dua witir dal semalam”.[7]
D.    Kesimpulan
 Dalam hal ini kita dapat menyimpulan bahwa shalat tarawih dalam bulan Ramadhan merupakan suatu amaliya yang sunnah muakkadah bagi semua ummat islam dalam menghidupkan bulan Ramadhan,.
Dan para ulama berbeda pendapat karena dalil yang mereka jadikan sebagai rujukan atas pelaksanaan shalat tarawih atau qiyamul laili.
Bilangan Rakaat shalat adalah letak terjadinya perbedaan pendapat ulama dalam permasalahan shalat tarawih.





[1] Abu Hafizhah, Fiqih Ramadhan, Ponorogo: Forum Kajian Ash-Shabru,2012, hlm. 45
[2] Ibnu Rusyd, Bidayah Mujtahid Wa Nihayah Al-Muqtashid,  Jilid 2, Darussalam; 1995 hlm 473
[3] Wahbah Zuahaili,  Fiqh Islam Wa Adillatuhu., jilid 2Damaskus: Daarul Al Fikri, 1985 hlm 72
[4] Ibnu Hajar al-Haitamy, Tuhfah al-Muhtaj, Juz. II, Hamisy Hasyiah Syarwani wa Ibnu Qasim, Mustafa Muhammad: Mesir, 1985, hlm. 225
[5] Imam al-Ramli, Ghayah al-Bayan Syarah Zubab, Maktabah Syamilah, hlm. 79
[6] Sayyid sabiq ,Fiqih Sunnah,jakarta timur, AL-I’TISHOM,hal 288-290
[7] Wahbah Az-zuhaili, fiqih islam, jakrata: Gema Insani, 2007. Hlm 227-231.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar